Review Film: The Menu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu 14

Mohammad Farras Fauzi | CNN Indonesia

Jumat, 09 Des 2022 21:30 WIB

Bagikan :  

 Film ini adalah sebuah ironi. The Menu begitu berupaya untuk menyentil budaya pretensius dengan cara paling pretensius. Review Film The Menu: Film ini adalah sebuah ironi. The Menu begitu berupaya untuk menyentil budaya pretensius dengan cara paling pretensius. (dok. Netflix via IMDb)

4

The Menu adalah sebuah ironi, saat upaya untuk menyentil budaya pretensius justru hadir dengan cara paling pretensius.

Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi saya sendiri, menyaksikan film dark comedy menjadi sebuah keseruan. The Menu berhasil meyakinkan saya untuk menyebut film ini sebagai salah satu contoh produk dark comedy yang paling ironis.

Penulis Seth Reiss dan Will Tracy menyusun naskah The Menu dengan begitu tertata rapi. Hal itu pun didukung dengan penampilan sekumpulan pemain yang terpusat pada satu set padat dan jauh dari kesan menjemukan.

Cerita bagaimana masyarakat kelas atas menjadi korban atas kemunafikannya sendiri jelas menjadi hidangan utama dari Reiss, Tracy, dan sutradara Mark Mylod dalam The Menu.

Gagasan cerita itu dimainkan dengan apik melalui pembabakan para pemain yang memengaruhi cerita ini secara bergantian, dimulai dari Anya Taylor-Joy dan Tyler di awal sandiwara.

Mereka patut mendapatkan pujian lantaran menampilkan dialog yang begitu menggambarkan kepongahan masyarakat kelas atas yang menjadi bahan santapan di film ini.

The MenuReview Film The Menu: Film ini adalah sebuah ironi. The Menu begitu berupaya untuk menyentil budaya pretensius dengan cara paling pretensius.: (dok. Netflix via IMDb)

Tentu saja, peran Ralph Fiennes selaku koki Julian Slowik yang punya 'resep' rahasia hidangan fine dining restoran Hawthorne dibawakan dengan baik, bahkan menjadi nyawa penting dari keseluruhan cerita.

Mylod pun terlihat jelas mengeksekusi berbagai resep imajinasinya dalam The Menu dengan cara yang hati-hati, apalagi untuk menempatkan adegan demi adegan yang tercipta secara intens. Plus, sebagian besar adegan hadir hanya dalam satu set.

Berbagai pesan tersirat dari tingkah laku para karakter, nama menu, komentar para tamu, hingga gestur tepukan tangan nyaring dari Slowik menjadi sesuatu yang tak akan bisa terlupakan dari film ini.

Bagi saya, semua hal itu seakan dibuat oleh Tracy dan Reiss sebagai bentuk cemoohan bagi kultur pretensius yang terdapat pada budaya fine-dining.

Misalnya saja, seperti kritikus makanan tersohor Lillian Bloom (Janet McTeer) menyerukan "we're eating The Ocean!" saat menyantap menu entrée bermodalkan rumput laut milik Slowik yang tak jelas rupanya.

Kritik pedas terhadap unsur keterpura-puraan itu dibuat dengan gaya slow-burn oleh Mylod. Dengan kata lain, ia mengajak penonton untuk menyaksikan betapa naif komunikasi antar orang kaya hanya untuk afirmasi dan memberi makan rasa gila hormat.

Babak teatrikal dalam film ini melalui menu ketiga pun jadi sesuatu yang epik. Apalagi dalam adegan 'sayap' itu, Taylor-Joy menampilkan aksi karakter cuek nan berani yang begitu pas.

Mylod terus membawa penonton The Menu ke babak-babak yang intens seiring dengan perjalanan cerita yang semakin dalam. Dalam fase ini, istilah-istilah gastronomi nir-makna sudah tak lagi menjadi fokusnya.

Hingga kemudian, Mylod memberikan makna baru bagi kehadiran Chef Slowik yang terlihat sebagai alat antitesis dari budaya fine-dining yang menjemukan dan tak jujur.

Kehadiran karakter Taylor-Joy dalam The Menu pun menjadi hal menarik lantaran ia adalah katalis dari Slowik dalam menuntaskan misinya di pertunjukan fine-dining itu, apalagi pada adegan terakhir yang menjadi favorit saya.

Dalam adegan terakhir itu, prinsip penggunaan simbol yang digunakan oleh The Menu sangatlah jitu dan tepat guna.

Namun secara keseluruhan, The Menu adalah sebuah ironi. Film ini begitu berupaya untuk menyentil budaya pretensius dengan cara paling pretensius.

Terlepas dari ensemble cast yang hadir begitu rapi dan memukau, saya melihat penulisan naskah dan penataan adegan untuk The Menu justru terlampau berlebihan dalam mereplikasi budaya fine-dining yang jadi sindiran utamanya.

[Gambas:Youtube]

Tak perlu tafsir mendalam untuk mendapatkan pesan utama dari keseluruhan film ini, yakni ketamakan dan sikap pretensius yang akan membunuhmu.

Bagi saya, The Menu tentu memiliki posisi nyaman untuk diplot sebagai salah satu film terbaik tahun ini dengan segala kelebihan dan plot 'mewah' film ini.

The Menu tak ubahnya sebagai alternatif klise bagi film-film blockbuster menjemukan lainnya yang tersedia di layar lebar dan layanan streaming konvensional.

Selain itu, persiapkan diri untuk menahan air liur kala menyaksikan penampakan cheeseburger yang disantap oleh Anya Taylor-Joy.

(end)

Bagikan :  

Selengkapnya